1.2K
Tanpa disadari, kita seringkali mengeluarkan uang banyak tanpa tahu apa kegunaannya. Termasuk dalam urusan alokasi memilih duta (Brand Ambassador) untuk produk-produk yang dihasilkan perusahaan kita. Padahal untuk apa membayar mahal jika kita bisa mendapatkan ambassador secara cuma-cuma?

Suatu malam untuk pertama kalinya saya mencoba mengikuti kelas aerobic di sebuah gym baru. Tempatnya lumayan bagus, fasilitasnya pun juga lumayan. Tetapi bukan kedua hal tersebut yang menarik perhatian saya, melainkan sebuah percakapan yang terjadi antara saya dengan petugas parkirnya.

Lokasi gym tersebut terletak di pinggir jalan besar. Lahan parkirnya terbatas sehingga parkiran motor dan parkiran mobil dipisahkah. Parkiran mobil ada di halaman depan gym, sedangkan parkiran motor berada di lahan sebelah gym. Semacam rumah penduduk yang dialih-fungsikan. Penjaga parkirnya pun merupakan warga sekitar.

Sesaat setelah saya membayar uang parkir, saya mencoba berbasa-basi sebentar dengan penjaga parkirnya. “Ngantos jam pinten, Mas?” tanya saja dalam bahasa Jawa, yang artinya adalah saya menanyakan sampai jam berapkah dia berjaga disana. Pertanyaan yang kemudian dijawabnya dengan menyebutkan angka sepuluh.

Sebuah percakapan basa-basi biasa saja. Tetapi yang kemduian membuatnya ‘tidak biasa’ adalah saat kemudian petugas parkir itu berinisiatif melanjutkan percakapan tersebut dengan bertanya, “Ikut fitness atau ikut kelas, Mas?”. Saya pun menjawab bahwa saya baru saja ikut kelas dan baru pertama kalinya datang ke gym tersebut.

“Ooo.. Mbok ikut jadi member aja, Mas. Lebih murah lho jatohnya. 250 ribu sebulan,udah gratis semua kelasnya,” lanjutnya sambil kemudian dengan fasih menjelaskan perbandingan harga antara per-kedatangan dengan apabila saya mendaftar jadi member disana.

Saya takjub.

Beginilah seharusnya setiap perusahaan jasa menerapkan sistem marketingnya. Everyone is a marketer. Semua penghuninya memiliki potensiyang sama untuk bisa memasarkan dan menjadi pemasar yang baik, jika dilatih dengan benar. Semuanya. Dari posisi yang paling bawah hingga yang paling atas. Mengenalkan dan memasarkan jasa bukan hanya tugas dari mereka yang berada di divisi marketing atau promotion. OB, Security bahkan penjaga parkir pun bisa. Mereka inilah justru yang bisa menjadi ‘the true brand ambassador’ perusahaan kita.

Selama ini istilah ‘Brand Ambassador’ selalu diidentikkan dengan sosok cantik-tampan-terkenal yang dipilih sebuah perusahaan sebagai ‘kapstok’ atau manequin yang memakai atau memegang produk-produk atau jasa yang perusahaan kita jual. Mereka kita bayar sangat mahal. Padahal mereka hanya ‘diam’. Seberapa efektifkah mereka berkontribusi mengenalkan dan membantu mem’boosting pemasaran produk kita?

Bandingkan jika kita ‘menggunakan’ kekayaan perusahaan kita sendiri untuk menjadi ambassador : karyawan kita. Karena merekalah yang sehari-hari bertatapn dan berinteraksi langsung dengan pelanggan, pemakai produk dan jasa kita. Merekalah ‘wajah’ sesungguhnya dari brand kita. Baik-buruk, kenal-tidaknya orang akan brand kita ada ditangan mereka ini. Sayangnya banyak perusahaan yang belum menyadari ini. Seberapa banyak perusahaan yang membekali (misalnya) penjaga parkirnya tentang program promosi atau product knowledge perusahaan?

Bisa dibayangkan, seandainya saja seusai berbincang dengan penjaga parkir itu saya langsung masuk kembali ke dalam gym dan mendaftar menjadi member, kemudian ditanya oleh pengelolanya, “Dapat informasi gym ini dari mana, Mas? Koran? Radio? Billboard? Atau Facebook?” dan kemudian saya jawab, “Bukan. Dari tukang parkir sebelah”. Maka penjaga parkir itu pantas mendapatkan kenaikan gaji bulan depan.



Write for Us!

Kamu baru saja membaca artikel "Siapakah Brand Ambassador Sesungguhnya?". Kamu punya cerita yang ingin dibagikan juga?

Tulis ceritamu di sini !


Zetta Media | @zettatrivia

Silahkan login untuk memberi komentar

OR SUBSCRIBE