Hukum Pembulian Di sosial Media

Pengertian Bullying

Bullying merupakan suatu aksi atau serangkaian aksi negatif yang seringkali agresif dan

manipulatif, dilakukan oleh satu atau lebih orang terhadap orang lain atau beberapa orang selama kurun waktu tertentu, bermuatan kekerasan, dan melibatkan ketidakseimbangan kekuatan.

Pelaku biasanya mencuri-curi kesempatan dalam melakukan aksinya, dan bermaksud membuat orang lain merasa tidak nyaman/terganggu, sedangkan korban biasanya juga menyadari bahwa aksi ini akan berulang menimpanya.

Hate Speech : Ucapan kebencian adalah tindakan komunikasi yang dilakukan oleh suatu individu atau kelompok dalam bentuk provokasi, hasutan, ataupun hinaan kepada individu atau kelompok yang lain dalam hal berbagai aspek seperti ras, warna kulit, etnis, gender, cacat, orientasi seksual ,kewarganegaraan, agama, dan lain-lain.

Dalam arti hukum, Hate speech adalah perkataan, perilaku, tulisan, ataupun pertunjukan yang dilarang karena dapat memicu terjadinya tindakan kekerasan dan sikap prasangka entah dari pihak pelaku Pernyataan tersebut ataupun korban dari tindakan tersebut. Website yang menggunakan atau menerapkan Hate Speech ini disebut Hate Site. Kebanyakan dari situs ini menggunakan Forum internet dan Berita untuk mempertegas suatu sudut pandang tertentu

Soal bully dalam bentuk penghinaan yang dilakukan di media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram maupun aplikasi pesan instan seperti BBM, Whatsapp, Line ddl dapat mengacu pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (“UU ITE”). Pada prinsipnya, tindakan menujukkan penghinaan terhadap orang lain tercermin dalam Pasal 27 ayat (3) UU ITE yang berbunyi:

“Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik”.

Adapun ancaman pidana bagi mereka yang memenuhi unsur dalam Pasal 27 ayat (3) adalah dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 1 miliar.

Sementara, soal perbuatan penghinaan di media sosial dilakukan bersama-sama (lebih dari 1 orang) maka orang-orang itu dipidana atas perbuatan “turut melakukan” tindak pidana (medepleger).[2] “Turut melakukan” di sini dalam arti kata “bersama-sama melakukan”. Sedikit-dikitnya harus ada dua orang, orang yang melakukan (pleger) dan orang yang turut melakukan (medepleger) peristiwa pidana.

Pasal-pasal Hukum Bullying

Dalam KUHP, perbuatan pidana tersebut bisa dijerat dengan pasal Provokasi dan Hasutan. Namun ada undang-undang lain yang secara spesifik mengaturnya yaitu :

1). Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis

Pasal 4 :

Tindakan diskriminatif ras dan etnis berupa :

a. memperlakukan pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau pemilihan berdasarkan pada ras dan etnis, yang mengakibatkan pencabutan atau pengurangan pengakuan, perolehan, atau pelaksanaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam suatu kesetaraan di bidang sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya; atau

b. menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang karena perbedaan ras dan etnis yang berupa perbuatan:

1. membuat tulisan atau gambar untuk ditempatkan, ditempelkan, atau disebarluaskan di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat dilihat atau dibaca oleh orang lain;

2. berpidato, mengungkapkan, atau melontarkan kata-kata tertentu di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat didengar orang lain;

3. mengenakan sesuatu pada dirinya berupa benda, kata-kata, atau gambar di tempat umum atau tempat lainnya yang dapat dibaca oleh orang lain; atau

4. melakukan perampasan nyawa orang, penganiayaan, pemerkosaan, perbuatan cabul, pencurian dengan kekerasan, atau perampasan kemerdekaan berdasarkan diskriminasi ras dan etnis.

Pasal 16

Setiap orang yang dengan sengaja menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang lain berdasarkan diskriminasi ras dan etnis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 huruf b angka 1, angka 2, atau angka 3, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000 (lima ratus juta rupiah).

2). Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

Pasal 28 ayat (2)

Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Pasal 45 ayat (2)

Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1) atau ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 1.000.000.000 (satu miliar rupiah).

Menurut penulis masyarakat kita yang sekarang kebablasan dalam hal menggunakan media

sosial, padahal ada hukum yang mengatur. bagaimana tidak? Kita bisa lihat pembully-an melalui media sosial memang parah salah dikit langsung dibully, tidak suka dengan postingan seseorang langsung dibully.

Penebaran kebencian dan SARA, tentu akhir akhir ini kita mendengar dan melihat ada kasus SARACEN (sindikat penyebaran SARA dan ujaran kebencian di media sosisal), penyebaran kebencian dan SARA memang mudah dilakukan. Apa yang salah dengan masyarakat internet (netizen) kita? Mengapa sebegitu “bablas” dalam menggunakan media sosial? Lalu apakah betul ini benar benar terjadi ?

untuk membuktikan hal tersebut penulis mencoba melakukan sedikit bisa dibilang eksperimen media sosial apakah benar hal yang penulis kemukakan diatas.

Jadi penulis akan pura pura salah kirim postingan di grup “WhatsApp” kelas kuliah penulis, isi konten postingan tersebut tidak akan penulis beberkan disini karena akan menyakiti hati pembaca wanita. Reaksi yang didapat atas postingan pura pura salah kirim tadi bisa dibilang cukup membuat anggota grup tersebut kaget.

untuk pembully an atas postingan pura pura salah kirim tadi bisa dibilang tidak terjadi malah yang terjadi adalah penulis dinasihati untuk tidak melakukan hal tersebut lagi, okelah dalam kasus ini masih bisa dibilang aman dari pembullyan mungkin karena postingan tersebut dilakukan oleh orang yang kita kenal, tapi bagaimana jika, postingan yang seperti ini dikirim oleh orang yang dalam konteks tidak kita kenal, apakah hal tersebut akan terjadi.

Penulis lagi lagi tergelitik untuk melakukan eksperimen lagi, kali ini teman penulis dari komunitas di media sosial “FACEBOOK” mencoba memposting kiriman mengenai pembantaian etnis Rohingya di Myanmar,

Menurut tanggapan penulis postingan teman penulis tersebut bisa dibilang masuk akal dan ada benarnya juga. Tapi , tanggapan dari netizen yang melihat postingan tersebut bermacam macam ada yang menanggapi dengan candaan, ada yang bisa dibilang bijak atau mungkin sok bijak, ada yang langsung “terpancing” dan membully dengan kata kata yang bisa dibilang agak sedikit menyakitkan hati tidak semua komentar di postingan itu saya bagikan disini, tapi hanya bebrapa.

Bagaimana tanggapan pembaca terkait postingan dan komentarnya. Silakan pembaca nilai sendiri dan sikapi dengan bijak, saya tidak akan menyuruh pembaca memihak dan memikirkan mana yang benar dan mana yang salah semua bisa terjadi di sosmed. Terkait postingan tersebut nama akun sengaja saya samarkan walaupun kebanyakan akun yang komen di postingan tersebut ternyata akun palsu.

Netizen Indonesia sendiri menurut penulis bisa dibilang sebagai pengguna media sosial yang mudah bersimpati terhadap kejadian dimedia sosial, tentu kita masih ingat postingan tentang like, share, dan komen aamiin bisa masuk surga, yang belakangan diketahui ternyata akun yang digunakan palsu dan postingan tersebut digunakan untuk memperoleh like, begitulah kenyataan di balik akun palsu di media sosial, dan ini memang terjadi. Dari kasus yang terjadi di atas penulis jadi menyadari satu hal orang biasa pun ternayata bisa menyebarkan luaskan kebencian , tidak perlu hal yang rumit cukup dengan postingan yang pas saja kita bisa melakukannya.

Penyebaran hoax, pembullyan dan pemakaian akun palsu memang tidak dapat di pisahkan dari masalah ini, ini memang menjadi masalah dan tantangan tersendiri di era kontemporer. Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah janganlah kita menjadi pengguna media sosial yang mudah terpancing yang salah dan tidak suka terhadap postingan seseorang langsung dibully, melihat kabar hoax langsung disebarluaskan begitu saja tanpa mengetahui kebenarannya, bijaklah dalam menggunakan media sosial, think before posting kalau tidak dimulai dari diri sendiri lantas siapa?? Saran penulis memang terdengar klasik dan basi, tapi ayolah kenyataannya memang begitu, harus dimulai dari diri sendiri baru kita bisa mengajak orang lain.

Akhir kata makalah penulis memang jauh dari kata sempurna, penulis mohon maaf yang sebesar sebesarnya atas penulisan yang kurang pas dan menyinggung hati pembaca sekalian.

Besar harapan penulis kita bisa mengambil hikmah dan pembelajaran atas berbagai peristiwa yang terjadi di sosial media. Sekali lagi penulis menyampaikan think before posting.

Terima kasih untuk pembaca yang sudah mau membaca makalah penulis yang jauh dari kata sempurna ini.

0 Shares:
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You May Also Like